Kamis, 29 November 2012

artikel keterampilan berbicara (Copy)


Berbicara Sebagai Seni Dan Ilmu
Wilayah “berbicara” biasanya dibagi menjadi dua bidang umum, yaitu:
1)      Berbicara terapan atau berbicara fungsional (the speech arts).
2)      Pengetahuan dasar berbicara (the speech sciences) (Mulgrave,1954:6).
Kalau kita memandang berbicara sebagai seni maka penerapan terletak pada penerapannya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat. Dan butir-butir yang mendapat perhatian antara lain:
1)      Berbicara dimuka umum
2)      Semantik: pemahaman makna kata.
3)      Diskusi kelompok
4)      Argumentasi
5)      Debat
6)      Prosedur parlementer
7)      Penafsiran lisan
8)      Seni drama
9)      Berbicara melalui udara
Dan kalau kita memandang berbicara sebagai ilmu maka hal-hal yang perlu ditelaah
adalah:
1)      Mekanisme bicara dan mendengar
2)      Latihan dasar bagi ajaran dan suara
3)      Bunyi-bunyi bahasa
4)       Bunyi-bunyi dalam rangkaian ujaran
5)      Vowel-vowel
6)      Diftong-diftong
7)      Konsonan-konsonan
8)      Patologi ujaran
Konsep-konsep dasar yang mendasari pendidian berbicara dapat dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu:
1)      Hal-hal yang berkenaan dengan hakekat atau sifat dasar ujaran.
2)      Hal-hal yang menyatakan proses-proses intelektual yang diperlakukan untuk mengembangkan kemampuan berbicara dengan baik.
3)      Hal-hal yang memudahkan seseorang untuk mencapai keterampilan-keterampilan berbicara.
Berbicara Sebagai Suatu Cara Berkomunikasi
Komunikasi mempersatukan para individu kedalam kelompok-kelompok dengan jalan menggolongkan konsep-konsep umum.  Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atau tindakan serangkaian unsur-unsur yang mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi adalah sesuatu yang fungsional, mengandung maksud dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek atau akibat pada lingkungan para penyimak dan para pembicara.
 Batasan Dan Tujuan Berbicara
Berbicara adalah kemampuan mengucap bunyi-bunyi artikulasi atau kemampuan untuk mengekspresikan, menyatakan atau menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.Tujuan utama berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, seyogianyalah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan.





















KETERAMPILAN BERBICARA
PENDAHULUAN
Di dalam pengkomnikasian dengan ide-idenya secara jelas, maka seorang pembicara akan mempergunakan satu atau lebih paragraf pembukaan untuk memperkenalkan subjeknya beserta pendekatan khusus terhadap hal itu, yaitu temanya. Sering pula dia menunjukan secara singkat pokok-pokok penting yang akan di cakup dan menetapkan aspek-aspek maslah apa yang akan di masukan ataupun di keluarkan. Dengan kata lain dia hendak menyatakan ruang lingkup dan pembahsan urainnya. Sering dia pula menjelaskan maksudnya dalam penulisan artikel itu. Dia mungkin menyatakan mengenai pokok masalah, Tema, atau Ruang Lingkupnya. Dan dia juga membicarakan tentang isi, inti misi pembicaraan dan juga sifat-sifat pembicaraan.

HASIL
Hasil yang diperoleh dari observasi adalah di dalam berbicara itu memiliki kemampuan yang baik di dalam menyampaikan isi pesannya kepada orang lain sehingga dapat di mengerti sesuai dengan keinginannya.dari hasil berbicara juga sangat di pengaruhi oleh dua faktor yang menunjukan utama yaitu internal dan eksternal. Inti pembicaraan yang di maksudkan dengan misi pembicaraan untuk bertujuan pembicaraan pada misi, sifat, lawan bicara dan suasana pembicaraan.

PEMBAHASAN
Di dalam pembahasan dari isi uraian atau hasil tersebutjuga ikut menentukan bagaiman pembukaan suatu pembicaraan , baik isi maupun pola tutur bahasa bahkan nada bicara yang di gunakan adalah harus erat hubungan dengan suasana yang berlangsung atau di hadapi oleh pembicara. Karena pembicara harus memahami bentul suatu pembicaraan, apakah gembira, sedih, santai atau suasana yang lain. Dalam pembahasan tersebut juga membicarakan atau menyampaikan secara lengkap dengan sistematika dan tidak berkepanjangan atau bertele-tele.
 

A. Isi dan Inti Pembicaraan
Inti pembicaraan merupakan bagian pokok dalam pembicaraan bagian ini merupakan tujuan dari pembicaraan dalam bagian inilah rincian permasalahan akan di bahas.
Isi pembicaraan dapat di sampaikan secara lengkap dengan sistematika dan tidak berkepanjangan atau bertele-tele. Pembicaraan harus konsisten dengan inti permasalahan. Pembicaraan tidak boleh merasambat kehal-hal di luar permasalahan yang dibicarakan, terkecuali jika hal itu di ambil sekedar sebagai referensi atau sebagai loncatan berfikir itupun di batasi dan di jaga jangan samapai berkembang lebih jauh. Untuk lebih memfokuskan perhatian pendengar dapat di bantu dengan presentasi yang menggunakan alat Audio, Visual atau Audio Visual.
1. Misi pembicaraan
Pembukaan di pengaruhi oleh misi pembicaraan yang dimaksudkan dengan misi pembicaraan di sini adalah tujuan pertemuan atau pembicaraan dan tugas yang di bebankan kepada isi pembicaraan untuk di sampaikan kepada hadirin.
2. Sifat pembicaraan
Pembukaan di pengaruhi oleh sifat apakah resmi, atau tidak sama sekali. Pembukaan di depan forum resmi, misalnya pertemuan atau rapat Dinas yang di hadiri oleh pejabat kantor bersangkutan dan para pejabat pemerintah. Sifatnya sangat formal yang biasanya akan mengikuti tatanan yang benar-benar mencerminkan keseriusan dari acaranya. Pembicaraan atau pidato dapat di sisiplin dengan sedikit humor, dan bisa di lakukan dengan santai tapi dengan tidak menghilangkan keseriusan acara.
3. Lawan Bicara
Lawan bicara turut menentukan pembukaan pembicaraan, lawan bicara atau pendengar bisa di kategorikan dalam dua bagian yaitu kelompok atau perseorangan. Pembicaraan dengan perseorangan atau seseorang, pembukaan biasa di warnai dengan gaya yang sifatnya kekeluargaan, apalagi keduanya sudah akrab. Namun apabila pembicaraan dengan lawan bicara belum akran benar maka pembukaan di sampaikan seperlunya hingga di rasa suasana sudah hangat. Kemudian kita masuk ke masalah inti yang akan di sampaikan.
4. Teknik Penyajian
a. Kemampuan menggunakan bahasa lisan, dalam hal ini seseorang pembicara hendaknya memiliki kemapuan tata bahasa yang baik, jelas dan tidak cadel.
b. Ekspresi yang menarik misalnya, tidak cemberut, tidak pucat, tidak marah, dan sebagainya. Ekspresi dalam berbicara sangat penting untuk memikat minar dengar atau rasa ingin tahu dari pendengar.
c. Stresing yaitu kemampuan seseorang pembicara untuk memberikan penekanan pada masalah. Masalah inti atau penting di dalam pembicaraan, misalnya dengan pengulangan-pengulangan yang perlunya, atau dengan misalnya penekanan-penekanan tertentu dalam nada pembicaraan.
d. Kemampuan dalam memberikan refresing dengan menyeupkan intermezzo yaitu dengan menyelingi pembicaraan dengan hal-hal lain yang berhubungan yang mengandung kelucuan, baik itu pengalaman sendiri atau sebuah anekdut, dengan tidak mengurangi nilai pembicaraan.


KESIMPULAN
Akhirnya menjelang penutup suatu keterampilan berbicara pada dasarnya harus di miliki semua orang.dan memperhitungkan bahwa apa yang dibicarakan menuju apa yang dikata-katanya. Inilah suatu pertanda bagi kita bahwa dia akan membicarakan atau menyimpulkan berbicara itu. Disadari bahwa keterampilan berbicara sesorang, sangat dipengaruhioleh dua faktor penunjang yaitu internal dan eksternal. Dan pada dasarnya juga bahwa berbicara memiliki dasar oleh semua orang yang di dalam kegiatan membutuhkan komunikasi, baik sifatnya satu arah maupun yang timbal balik ataupun keduanya.

UCAPAN TERIMA KASIH

Pada akhir pembicaraan yang hendak di usahakan adanya kata-kata ucapan terima kasih yang di sebut sesingkat mungkin, dan di dalam ucapan terima kasih ini dapat di sampaikan kesimpulan, isi, pendahuluan atau rangkuman ini sebagai hasil pembicaraan itu. Saya akhiri dengan ucapan terima kasih kepada dosen pengasuh atas perhatiannya yang di berikan kepad saya, apabila tugas keterampilan berbicara ini ada kesalahan lebih dan kurang saya mohon maaf.

















Keterampilan berbahasa
Keterampilan berbahasa mempunyai  4 komponen yaitu : keterampilan menyimak,berbicara,membaca, dan menulis.  4 komponen  tersebut merupakan satu kesatuan yang sangat erat hubunggannya sehingga disebut catur tunggal. Dan keterampilan itu hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan cara praktek dan banyak latihan.  Melatih keterampilan berbahasa berarti pula melatih keterampilan berpikir. Untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi, dapat diawali dengan menyimak, berbicara, membaca dan menulis
Berbicara sebagai suatu keterampilan berbahasa
* Berbicara  adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak    dan didahului dngan proses menyimak.
* Berbicara dan menyimak merupakan kegiatan komunikasi dua arah yang langsung, merupakan komunikasi tatap muka.
* Pengajaran menyimak, berbicara dan menulis haruslah saling berhubungan serta berkaitan erat dengan keterampilan membaca.
  Berbicara sebagai suatu cara berkomunikasi
Komunikasi mempersatukan para individu dalam kelompok dengan jalan menhablurkan konsep umum, memelihara serta mengawetkan ikatan-ikatan kepentingan umum, menciptakan suatu kesatuan lambang-lambang yang membedakannya dari kelompok-kelompok lain, dan menetapkan suatu tindakan tersebut tidak akan ada serta dapat bertahan lama tanpa adanya masyarakat-masyarakat bahasa.
Komunikasi dapat dipandang sebagai suatu kombinasi perbuatan-perbuatan atau tindakan-tindakan serangkaian mengandung maksud dan tujuan. Komunikasi bukan merupakan suatu kejadian, peristiwa, sautu yang terjadi: komunikasi adalah sesuatu yang funsional,mengandung maksud, dan dirancang untuk menghasilkan beberapa efek.

Batasan dan tujuan berbicara
Ujaran (speech) merupakan suatu bagian yang integral dari keseluruhan personalitas atau kepribadian, mencerminkan lingkungan sang pembicara, kontak-kontak sosial dan pendidikannya.
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan.
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi. Agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, maka seyogyanya ialah sang pembicara memahami makna segala sesuatu yang ingin dikomunikasikan, maka pada dasarnya berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu:
  • Memberitahukan, melaporkan.
  • Menjamu, menghibur.
  • Membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan

 berbicara sebagai seni dan ilmu
Wilayah “ berbicara” biasanya dibagi menjadi dua bidang umum, yaitu”
a)      Berbicara terapan atau berbicara fungsional
b)      Pengetahuan dasar berbicara
Pengetahuan sebagai ilmu atau teori berbicara akan sangat bermanfaat dalam menunjang kemahiran serta keberhasilan seni atau praktek berbicara. Itulah sebabnya maka diperlukan pendidikan berbicara.

 ragam seni berbicara
Secara garis besar, maka berbicara dapat dibagi atas:
I. Berbicara dimuka umum pada masyarakat, yang mencakup:
  • Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan yang bersifat informative.
  • Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat kekeluargaan, persahabatan.
    • Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan.
    • Berbicara dalam situasi-situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati.
II. Berbicara pada konvrensi yang meliputi:
  • diskusi kelompok, yaitu diskusi resmi dan tidak resmi.
  • Prosedur parlementer.
  • Debat
Metode penyampaian dan penilaian berbicara
Sang pembicara sendiri dapat menentukan tang baik dari empat metode yang mungkin dipilih:
1. pencapaian secara mendadak
2. penyampaian tanpa persiapan
3. penyampaian dari naskah
4. penyampain dari ingatan

KESIMPULAN
Secara garis besar kami memahami buku “ BERBICARA SEBAGAI SUATU KETRAMPILAN BERBAHASA”, dimana Bahasa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia yaitu sebagai sarana komunikasi. Hal tersebut terjadi karena sebagai makhluk sosial, manusia selalu berkomunikasi dengan orang lain sebagai wujud interaksi. Pembelajaran bahasa Indonesia mencakup empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan itu erat sekali berhubungan dengan tiga keterampilan lainnya dengan cara yang beraneka-ragam. Dalam memperoleh keterampilan berbahasa, biasanya kita melalui suatu hubungan urutan yang tertatur: mula-mula pada masa kecil kita belajar menyimak bahasa, kemudian berbicara, sesudah itu kita belajar membaca dan menulis. Menyimak dan berbicara kita pelajari sebelum memasuki sekolah. Keempat keterampilan tersebut pada dasarnya merupakan suatu kesatuan, merupakan catur tunggal. Selanjutnya setiap keterampilan itu erat pula berhubungan dengan proses-proses berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikirannya. Semakin terampil seseorang berbahasa, semakin cerah dan jelas pula jalan pikirannya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikuasai dengan jalan praktek dan banyak latihan.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar