Rabu, 31 Oktober 2012

Teori-teori Linguistik


A.    Teori-teori Linguistik
1.      Jelaskan ciri-ciri teori atau aliran linguistik tradisional.
2.      Jelaskan ciri-ciri teori atau aliran linguistik struktural.
3.      Jelaskan ciri-ciri teori atau aliran linguistik transformasional.
4.      Jelaskan ciri-ciri teori atau aliran linguistik tagmentik.
5.      Sebutkan teori atau aliran linguistik lainnya yang Anda ketahui.

1.      Ciri-ciri aliran tradisional menurut Soeparno (2002: 44) adalah sebagai berikut.
a.      Bertolak dari Pola Pikir secara Filosofis.
Ada dua hal yang menjadi bukti bahwa aliran Tradisional menggunakan landasan/pola pikir filsafat ialah
banyaknya pembagian jenis kata yang bersumber darionoma-rhema produk Plato dan onoma-rhema-syndesmos produk Aristoteles; dan penggunaan istilah subjek dan predikat yang sampai saat ini menjadi materi utama dalam pembelajaran bahasa di sekolah.

b.      Tidak Membedakan Bahasa dan Tulisan.
Teori ini mencampuradukkan pengertian bahasa (dalam arti yang sebenarnya) dan tulisan (perwujudan bahasa dengan media huruf). Dengan demikian, secara otomatis juga mencampuradukkan pengertian bunyi dan huruf. Sebagai bukti seorang ahli bahasa mencampuradukkan pengertian tersebut dapat dibaca pada kutipan “Antara vocal-vokal itu, huruf a adalah yang membentuk lubang mulut yang besar, i yang kecil, e biasanya terbentuk di dalam mulut sebelah muka, dan o di belakang sebelah ke dalam” (Mees dalam Soeparno, 2002: 44)



c.        Senang Bermain dengan Definisi.
Ciri ini merupakan pengaruh dari cara berpikir secara deduktif. Semua istilah diberi definisi terlebih dahulu kemudian diberi contoh, yang kadang-kadang hanya ala kadarnya. Teori ini tidak pernah menyajikan kenyataan-kenyataan bahasa yang kemudian dianalisis dan disimpulkan. Yang paling utama adalah memahami istilah dengan menghapal definisi yang dirumuskan secara filosofis.

d.      Pemakaian Bahasa Berkiblat pada Pola/Kaidah.
Ketaatan pada pola ini diwarisi sejak para ahli tata bahasa tradisional mengambil alih pola-pola bahasa latin untuk diterapkan pada bahasa mereka sendiri. Kaidah bahasa yang telah mereka susun dalam suatu bentuk buku tata bahasa harus benar-benar ditaati oleh pemakai bahasa. Setiap pelanggaran kaidah dinyatakan sebagai bahasa yang salah atau tercela. Pengajaran bahasa di sekolah mengajarkan bahasa persis yang tercantum di dalam buku tata bahasa. Praktik semacam itu mengakibatkan siswa pandai dan hafal teori-teori bahasa akan tetapi tidak mahir berbicara atau berbahasa di dalam kehidupan masyarakat. Tata bahasa yang mereka pakai itu biasa disebut tata bahasa normative dan tata bahasa preskriptif.

e.       Level-level Gramatik Belum Ditata Secara Rapi.
Level (tataran) yang terendah menurut teori ini adalah huruf. Level di atas huruf adalah kata, sedangkan level yang tertinggi adalah kalimat. Menurut teori ini, huruf didefinisikan sebagai unsure bahasa yang terkecil, kata didefinisikan sebagai kumpulan dari huruf yang mengandung arti, sedangkan kalimat didefinisikan sebagai kumpulan kata yang mengandung arti lengkap. 

f.       Tata Bahasa Didominasi oleh Jenis Kata (Part of Speech)
Ciri ini merupakan ciri yang paling menonjol di antara ciri-ciri yang lain. Hal ini dapat dimengerti Karena masalah penjenisan kata merupakan aspek linguistik yang paling tua dalam sejarah kajian linguistik.

2.      Ciri-ciri aliran struktural adalah sebagai berikut.
a.      Berlandaskan pada Paham Behaviouristik
Sejalan dengan paham behaviouristik, proses berbahasa sebagaimana tingkah laku yang lain merupakan suatu proses rangsang-tanggap (stimulus-respon).

b.      Bahasa Berupa Ujaran
Bahwa hanya yang berupa ujaran yang dapat disebut bahasa. Bentuk-bentuk perwujudan yang selain ujaran tidak dapat digolongkan bahasa dalam arti yang sebenarnya, termasuk juga tulisan. Bahasa dibedakan dengan tulisan, huruf dibedakan dengan bunyi/fonem.

c.       Bahasa berupa Sistem Tanda
Pada hakikatnya bahasa adalah sistem tanda. Sistem tanda tersebut bersifat arbriter dan konvensional. Sistem tanda dalam bahasa berupa signifie (tertanda) dan signifiant (penanda).

d.      Bahasa merupakan Faktor Kebiasaan
Kaum strukturalis menerapkan metode di dalam pembelajaran bahasa yang kemudian terkenal dengan metode drill and practice, yakni suatu metode yang menerapkan pemberian latihan yang terus menerus dan berulang-ulang sehingga akhirnya membentuk suatu kebiasaan.

e.       Kegramatikalan berdasarkan keumuman
Bentuk dan struktur bahasa yang sudah biasa dipakai tau yang sudah umum saja yang dinilai sebagai bentuk yang gramatikal. Bentuk-bentuk yang secara kaidah sebenarnya betul tetapi belum biasa dipakai atau belum umum maka bentuk tersebut terpaksa dinyatakan sebagai bentuk yang tidak gramatikal.

f.       Level-level Gramatika ditegakkan secara rapi
Level-level ini mulai ditegakkan dari level terendah berupa fonem sampai level tertinggi berupa kalimat. Secara berturut-turut level gramatikal tersebut adalah morfem, kata, frasa, klausa, dan kalimat.

g.      Tekanan Analisis pada Bidang Morfologi
Aliran linguistik struktural lebih menekankan pada analisis morfologi. Pola analasisi kata yang dipakai sebagai analisis struktural ini adalah analisis kata E. Nida dalam buku Morphology.


h.      Bahasa merupakan deretan Sintagmatik dan Paradigmatik
Deretan sigmatik adalah suatu deretan unsur secara horizontal. Deretan sigmatik ini terjadi dalam segala tataran. Deretan Paradigmatik adalah deretan struktur yang sejenis secara vertikal.

i.        Analisis bahasa secara Deskriptif
Analisis bahasa harus didasarkan atas kenyataan yang ada. Data bahasa yang dianalisis hanyalah data yang ada pada saat penelitian dilakukan.

j.        Analisis bahasa berdasarkan Unsur Langsung
Maksudnya adalah unsur-unsur yang setingkat lebih rendah atau lebih bawah dari struktur tersebut.

3.      Ciri-ciri teori atau aliran linguistik transformasional adalah sebagai berikut:
1. Berdasarkan Paham Mentalistik
Aliran berpendapat bahwa proses berbahasa bukan sekadar proses rangsang-tanggap semata-mata, akan tetapi justru menonjol sebagai proses kejiwaan. Proses berbahasa bukan sekadar proses fisik yang berupa bunyi sebagai hasil sumber getar yang diterima oleh alat auditoris, akan tetapi berupa proses kejiwaan di dalam diri peserta bicara. Oleh karena itu, aliran ini sangat erat kaitannya dengen subdisipliner psikolinguistik
2. Bahasa Merupakan Innate
Kaum transformasi beranggapan penuh bahwa bahasa merupakan faktor innate (warisan keturunan). Dalam hal ini, untuk membuktikan teorinya Chomsky dengan bantuan rekannya membuktikan bahwa struktur otak manusia dengan otak simpanse persis sama, kecuali satu simpul syaraf bicara yang ada pada struktur otak manusia tidak terdapat pada struktur otak simpanse. Itulah sebabnya simpanse tidak dapat berbicara seperti manusia, meskipun ia telah dilatih berkali-kali, karena hal itu tidak disebabkan oleh kebiasaan, akan tetapi harus ada faktor keturunan.
3. Bahasa Terdiri atas Lapis Dalam dan Lapis Permukaan
Teori transformasional memisahkan bahasa atas dua lapisan, yakni deep structure (struktur dalam/ lapis batin) yaitu tempat terjadinya proses berbahasa yang sesungguhnya/ secara mentalistik; dan surface structure(struktur luar, struktur lahiriah) yaituwujud lahiriyah yang ditransformasikan dari lapis batin. Contoh: Welcome, Ahlan wa Sahlan, Selamat datang merupakan tiga unsur struktur permukaan yang ditransformasikan dari satu struktur dalam yang sama.
4. Bahasa Terdiri atas Unsur Competent dan Performance
Sebagaimana yang telah kita sebutkan di atas, aliran transformasional memisahkan bahasa atas unsur competent yaitu pengetahuan yang dimiliki oleh seorang penutur tentang bahasanya termasuk kaidah-kaidah yang berlaku bagi bahasanya; dan performance yaitu ketrampilan seseorang dalam menggunakan bahasa tersebut.
5. Analisis Bahasa Bertolak dari Kalimat
Aliran ini beranggapan bahwa kalimat merupakan tataran gramatik yang tertingi. Dari kalimat analisisnya turun ke frasa dan kemudian dari frasa turun kata. Aliran ini tidak mengakui adanya klausa.
6. Bahasa Bersifat Kreatif
Ciri ini merupakan reaksi atas anggapan kaum struktural yang fanatik terhadap standar keumuman. Bagi kaum transformasional yang terpenting adalah kaidah. Walaupun suatu bentuk kata belum umum asalkan pembentukannya sesuai dengan kaidah yang berlaku, maka tidak ada halangan untuk mengakuinya sebagai bentuk gramatikal. Contoh:
a. Sampah telah menggunung di tepi jalan.
kata menggunung terbentuk dari kata gunung dan prefiks me-ng bermaksud menyerupai gunung
b. Peluhnya menganak sungai, dll
7. Membedakan Kalimat Inti dan Kalimat Transformasi
Aliran ini membedakan antara kalimat inti dan kalimat transformasional. Kalimat inti adalah kalimat yang belum dikenai oleh kaidah transformasi, mempunyai ciri-ciri (a) lengkap, (b) simpel (c) aktif (merupakan ciri pokok), (d) statement (e)positif (f) runtut (merupakan ciri tambahan).
Secara skematis dapat digambarkan sebagai berikut:
KALIMAT
INTI
KAIDAH
TRANSFORMASI
KALIMAT
TRANSFORMASI
1. Lengkap
Pelepasan/delisi
Kalimat elips/ minor
2. Simpel
Penggabungan
Kalimat kompleks
3. Aktif
Pemasifan
Kalimat Pasif
4. Statement
- Tanya
- Perintah
- Kalimat Tanya
- Kalimat Perintah
5. Positif
Pengingkaran
Kalimat Ingkar
6. Runtut
Pembalikan
Kalimat Inversi
8. Analisis diwujudkan dalam bentuk Rumus dan Diagram Pohon
9. Gramatikal bersifat generatif
Di dalam teori ini ada anggapan bahwa aturan gramatika memberikan mekanisme dalam otak yang membangkitkan kalimat-kalimat.

4.      Ciri-ciri aliran tagmemik adalah sebagai berikut.
a.       Setiap Struktur Terdiri atas Tagmen-tagmen
b.      Bersifat Eklektik
c.       Bersifat Universal
d.      Tiga Hierarki Linguistik (Fonologikal, gramatikal, dan referensial)
e.       Tataran pada Hierarki Gramatikal
f.       Slot pada tataran klausa
g.      Predikat pada kata kerja
h.      Ciri etik dan Emik
i.        Rumus di dalam Analisis
j.        Analisis dimulai dari klausa.
Pada garis besarnya, teori tagmemik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
· Slot
Slot adalah suatu ciri tagmen yang merupakan tempat kosong di dalam struktur yang harus diisi oleh fungsi tagmen. Di dalam tataran klausa fungsi tagmen tersebut berupa subjek, predikat, objek, dan adjung. Pada tataran lain umumnya fungsi tagmen berupa inti dan luar inti. Pada teori tradisional dan struktural, slot, kelas, peran, dan kohesi.
· Kelas
Kelas adalah suatu ciri tagmen yang merupakan wujud nyata dari slot. Wujud nyata slot itu adalah berupa satuan-satuan lingual seperti morfem, kata, frasa, klausa, alinea, monolog, dialog, dan wacana. Kelas dapat dipecah lagi menjadi kelas yang lebih kecil (subkelas). Kelas frasa dapat dipecah menjadi frasa benda dan frasa kerja. Kelas klausa dapat dipecah menjadi klausa transitif, klausa intransitif, klausa ekauatif, dan sebagainya.
· Peran (Role)
Peran adalah ciri atau benda penanda yang merupakan pembawa fungsi tagmem. Memang agak susah untuk membedakan fungsi dan peran. Pelaku dan penderita adalah nama peran. Pelaku dan penderita tersebut dapat menjadi pembawa fungsi subjek. Dengan demikian ada subjek dengan peran penderita.
· Kohesi
Kohesi adalah ciri atau penanda tagmem yang merupakan pengontrol hubungan antartagmem. Pengontrol hubungan yang hampir terdapat pada semua bahasa adalah kaidah ktransitifan pada kluasa yang berlaku untuk klausa transitif, klausa instransitif dan klasa ekuatif (Soeparno, 2002: 60-66).
Di dalam rumus keempat ciri atau penanda itu ditempatkan pada sudut penempatan garis. Sudut kiri atas ditempati oleh slot, sudut kanan ditempati oleh kelas, sudut kiri bawah ditempati oleh peran, dan sudut kanan bawah ditempati oleh kohesi.
Menurut teori ini ada tiga macam hierarki linguistik yaitu: 1) hierarki referensial, 2) hierarki fonologis, 3) hierarki gramatikal. Hierarki fonologis adalah tataran dalam kawasan bunyi bahasa. Hierarki gramatikal adalah tataran dalam kawasan tata bahasa. Morfem dan sintaksis tercakup dalam tataran ini, namun menurut teori ini tidak ada batas lagi antara morfologi dan sintaksis (Soeparno, 2002: 62).

5.      Beberapa teori yang lain:
a)      Aliran Bloomfieldian
b)      Aliran Neo Bloodfieldian
c)      Aliran Startifikasional
d)     Aliran Kopenhagen
e)      Aliran Praha
f)       Aliran London
g)      Aliran Neo-Firthians
h)      Aliran Case Grammar

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar